Libur telah tiba. Juni-Juli, saat yang ditunggu hampir semua orang, termasuk para orangtua. Lepaskan diri sejenak dari kerja rutin, habiskan hari bersantai bersama keluarga. Mau di mal, Puncak dan Bogor, Sukabumi, Pulau Bali, atau bahkan luar negeri, banyak pilihan disuguhkan.

Namun, mau berapa lama kita bepergian? Satu jam, dua jam, atau satu dua minggu? Ternyata, masih saja tersisa banyak hari libur di pertengahan tahun ini. Di rumah saja, tentu bakal bosan tidak kepalang. Jadi, coba ngegowes, yuk.

Memang di Jakarta belum ada jalur khusus sepeda. Membayangkan jalanan yang penuh dengan sepeda motor, mobil, dan angkutan umum pasti membuat niat bersepeda alias ngegowes langsung pupus. Padahal, sebenarnya banyak tempat yang pas dan asyik untuk mengayuh pedal di Jakarta.

Pada Minggu, 28 Juni, Jalan Sudirman-MH Thamrin akan menjadi surga pesepeda meskipun hanya setengah hari. Pada hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) yang selalu diadakan pada Minggu terakhir setiap bulannya ini, kelompok-kelompok pesepeda dan penyuka olahraga pagi selalu berkumpul sejak tahun 2007.

Masyarakat umum bebas bergabung. Pakai sepeda mini, sepeda roda tiga untuk anak-anak, bergaya dengan sepeda ontel ternama zaman dulu: Gazelle, Batavus, Simplex, Humber, Raleigh atau merek favorit era kakek nenek kita, sampai sepeda sport model terkini tumpek blek di sini.

”Bukan merek atau jenis sepedanya yang bikin ramai. Orang-orang yang datang meskipun dari berbagai kalangan, sama-sama pecinta sepeda. Bergabung bersama mereka yang suka lari pagi, jalan santai, atau sekadar nongkrong di kawasan tanpa asap kesannya berbeda banget. Sesuatu yang sederhana, tetapi nyaman dan fun,” kata Ridwan Nasution (36), penggemar sepeda yang ditemui di HBKB Sudirman-Thamrin, 31 Mei.

Warga Jakarta semakin akrab dengan kegiatan bersepeda selama beberapa tahun terakhir. Sudah pasti klub sepeda, seperti Bike to Work, Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti), atau Komunitas Onthel Batavia, kian menancapkan kukunya dengan menjaring beribu anggota.

Sesuai data Kosti, tercatat ada lebih dari 30 klub sepeda tua atau biasa disebut sepeda ontel di Jakarta. Belum lagi pencinta sepeda sport dan penggila sepeda santai pada hari-hari libur. Anggotanya tidak hanya di Jakarta, tetapi tersebar hingga ke Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Bersepeda resmi menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang banyak dianut warga kota. Tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, hingga wali kota-wali kota di Jakarta turut memopulerkannya. Selain sehat untuk diri sendiri, makin banyak orang bersepeda akan mengurangi tingkat polusi di Jakarta.

Kayuh sampai Bogor

Jika HBKB dirasa terlalu terbatas, bahkan mungkin sulit dijangkau, ada banyak lokasi lain yang enak untuk menyalurkan hobi mengayuh ini. Apalagi, bagi yang ingin memulai menekuni ngegowes sebagai hobi.

Lihat saja di beberapa perumahan di Jabodetabek, seperti Bintaro, Bumi Serpong Damai, dan Karawaci di Tangerang, Delta Mas di Bekasi, atau di Bogor Nirwana Residence, Kota Bogor.

Bersepeda antartaman kota pun menarik, misalkan saja dari Taman Surapati ke Taman Menteng sembari berputar-putar di kawasan Menteng yang asri di Jakarta Pusat. Bisa juga dari Taman Ayodya di Jakarta Selatan kemudian menyusur berkeliling hingga ke kawasan adem di Kebayoran Baru.

Pada hari libur, khususnya setiap Sabtu dan Minggu, jalanan perkotaan yang lumayan bersih dari arus lalu lintas pekerja bisa pula menjadi ajang bersepeda. Kalau mau yang lebih sekaligus menyalurkan hobi mengembara, coba saja rute lintas kota.

Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi, Minggu (14/6), mencoba membiasakan yang tak biasa di dunia ngegowes Ibu Kota. Bersama rombongan pesepeda Onthel Jakarta Selatan, Syahrul dengan bercelana kombor ala Si Pitung dan berkaus menembus rute dari Jalan Prapanca hingga Bogor.

”Ini kampanye sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-482 Jakarta. Selain festival di mana-mana digelar, kami coba beraksi langsung mengajak masyarakat membuat Jakarta menjadi lebih nyaman. Caranya, ya bersepeda,” kata Syahrul.

Ngegowes ala Syahrul Effendi ini menempuh perjalanan sepanjang 49 kilometer dari Kantor Wali Kota Jakarta Selatan di Jalan Prapanca hingga ke Balaikota Bogor, tak jauh dari Kebun Raya Bogor. Syahrul memimpin sekitar 350 pesepeda menelusuri rute Prapanca-Cilandak-Pondok Cabe-Sawangan-Parung-Semplak-Atang Senjaya-Simpang Jasinga Cibinong-Pasar Anyar-Pasar Merdeka-Kebun Raya Bogor.

Rombongan pesepeda mulai mengayuh sepedanya pada pukul 06.30 dan sampai ke tujuan pada pukul 12.00. Setiap sekitar 10 kilometer, rombongan berhenti untuk beristirahat.

Di sepanjang perjalanan, peserta rombongan tidak disuguhi bentang aspal halus dan lurus ruas tol yang membosankan. Meski jalan berkelok-kelok danterkadang mikrolet-mikrolet ngetem mencari penumpang yang membuat perjalanan tersendat, pemandangan di sepanjang rute cukup menyenangkan.

Di sekitar Sawangan, terdapat banyak lokasi jual beli tanaman hias. Sebut saja Godongijo, Istana Alam, dan Kebon Aracea. Selain itu, banyak tempat makan enak, antara lain Soto Bu Condro dan Sate Sardan. Pemancingan pun mudah ditemukan. Ada juga perajin penggorengan logam ukuran kecil dan besar yang berkualitas.

”Ini bisa jadi alternatif berlibur saya dan keluarga nanti,” kata Ahmad, pesepeda asal Cipulir.

Kelelahan menghias wajah Syahrul saat menuntaskan kayuhannya di Balaikota Bogor. Namun, senyum mengembang tak pernah lepas dari wajahnya. Terbukti, untuk orang berumur paruh baya lebih, bersepeda tetap mujarab untuk menjaga stamina tubuh. Jadi, mulailah kayuh sepedamu, biarkan dia jadi bagian darimu dan mengisi hari-harimu. (kompas)

Visitors Also Read